pasukan Amerika di Afganistan

Joe Biden Rencana Tarik Pasukan Amerika dari Afganistan Paling Lambat 11 September

Bandung Raya Internasional News Politik Terkini

NEW YORK, KABARBANDUNG.COM- Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah memutuskan akan menarik pasukan Amerika dari Afghanistan paling lambat 11 September 2021, 20 tahun setelah serangan al-Qaida memicu perang terpanjang Amerika..

Namun, penarikan tersebut akan didasarkan pada keamanan tertentu dan jaminan HAM, kata sumber Pemerintahan AS yang tidak mau disebutkan namanya seperti dikutip Kabarbandung.com dari Reuters, yang tidak mau disebut namanya sebelum keputusan itu resmi. Sumber itu tidak memberi rincian lebih lanjut.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin diperkirakan akan memberi penjelasan singkat tentang keputusan itu kepada sekutu NATO di Brussel pada Rabu. Biden juga mungkin akan mengumumkan keputusannya itu secara terbuka, kata sumber itu.

Keputusan Biden, jika dikukuhkan, akan lewat dari tenggat 1 Mei bagi penarikan yang disepakati dengan pemberontak Taliban oleh pemerintahan Donald Trump.

Dalam pernyataan bulan lalu, Taliban mengancam akan kembali menyerang pasukan asing di Afghanistan jika Amerika tidak memenuhi tenggat 1 Mei. Tetapi Amerika tetap akan menetapkan tanggal jangka pendek bagi penarikan, kemungkinan untuk menepis kekhawatiran Taliban bahwa Biden akan menunda proses itu.

Tenggat 1 Mei mulai tampak semakin kecil kemungkinannya dalam beberapa pekan ini, mengingat kurangnya persiapan di lapangan untuk memastikan hal itu dapat dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Pejabat-pejabat Amerika juga menyalahkan Taliban karena tidak memenuhi komitmen untuk mengurangi kekerasan. Sebagian pejabat memperingatkan Taliban terus terkait al-Qaida.

Hubungan itulah yang memicu intervensi militer Amerika pada 2001 menyusul serangan al-Qaida pada 11 September terhadap New York dan Washington karena Taliban menyembunyikan para pemimpin al-Qaida. Ribuan tentara Amerika dan sekutu tewas dalam pertempuran di Afghanistan (Reuters/VOA/KBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *